Selasa, 22 Oktober 2019

Ringkasan buku The 7 Habits of Highly Effective People


Hallo guys!!
Apakah kalian tahu dan pernah membaca buku “The 7 habbits of highly effective” buku karya Stephen R. Covey memaparkan kepada pembacanya ada 7 kebiasaan manusia yang bisa dipraktekkan agar hidup bisa lebih produktif dan efektif, yang secara garis besar terbagi menjadi 3 golongan, yakni kebiasaan yang berhubungan dengan diri sendiri, kebiasaan yang berhubungan dengan orang lain, serta kebiasaan untuk mengembangkan keahlian diri.
Dan ini ada 7 kebiasaan yang dituliskan dalam buku 7 habbits of highly effective:
1.  Proaktif (Be Proactive: Principles of Personal Choice)
Ketika kita menginginkan kesuksesan dalam karir, maka kita dituntut untuk proaktif menentukan apa yang ingin dicapai, kemudian menyusun cara apa saja yang bisa dilakukan agar tujuan tersebut dapat tercapai. Keinginan, cita-cita ataupun tujuan yang ingin dicapai harus dibarengi dengan usaha, tidak bisa hanya diam duduk manis menunggu datangnya kesuksesan, harus ada upaya-upaya proaktif yang dilakukan agar sampai pada tujuan.
Orang yang proaktif biasanya sangat mengenali yang namanya rasa tanggung jawab. Mereka tidak menyalahkan keadaan, kondisi atau pengkondisian untuk perilaku mereka. Perilaku mereka adalah produk dari pilihan sadar mereka, berdasarkan nilai, dan bukan produk dari kondisi mereka.
2. Menentukan tujuan yang ingin dituju (Begin with the End in Mind: Principles of Personal Vision)
Dengan menentukan tujuan yang ingin dituju, kita akan memilah-milah langkah yang akan ditempuh, apakah langkah tersebut akan membantu kita mencapai tujuan atau tidak. Jika tidak, sebaiknya tinggalkan dan cari langkah atau perbuatan yang lebih efektif untuk mencapai tujuan. Intinya dengan menentukan tujuan di awal itu akan meminimalisasi langkah yang tidak perlu untuk mencapai tujuan.
3. .    Dahulukan yang menjadi prioritas (Put First Things First: Principles of Integrity & Execution)
Buatlah daftar pekerjaan yang penting untuk dilakukan setiap minggunya, dan lakukan review harian pada daftar tersebut. Selalu utamakan hal-hal yang paling penting untuk dilakukan. Stephen Covey menyebutnya “batu-batu besar”. Bayangkan sebuah ember, dimana ember adalah tempat kita menempatkan kegiatan, sedangkan batu diasumsikan sebuah kegiatan. Ada batu-batu besar dan ada batu-batu kecil atau kita menyebutnya kerikil. Untuk memenuhi ember dengan batu-batu tersebut kita akan mengutamakan batu-batu besar untuk dimasukkan ke dalam ember terlebih dahulu, kemudian mengisi ruang-ruang kosong dengan kerikil. Apabila kita memasukkan kerikil terlebih dahulu, maka batu-batu besar tersebut kemungkinan tidak bisa masuk ke dalam ember, mungkin saja bisa, tapi tidak bisa semua. dari perumpamaan tersebut diatas, Stephen R. Covey menggambarkan bahwa kita harus mementingkan yang menjadi prioritas terlebih dahulu. Prioritas adalah yang memiliki dampak besar terhadap tujuan kita, yang menjadi target terdekat dan bisa jadi berpengaruh bagi orang banyak.     

Berpikir Menang-Menang (Think Win/Win: Principles of Mutual Benefit)
Pola pikir menang-menang adalah pola pikir yang memperhatikan semua pihak. Tidak hanya berpikir terhadap satu sisi ego, tapi memenangkan banyak ego. Kerangka pikir menang-menang adalah kerangka pikiran dan hati yang terus-menerus mencari keuntungan bersama dalam semua interaksi manusia. Hal ini menunjukkan dengan solusi menang/menang (win-win solution), semua pihak merasa senang dengan keputusannya dan merasa terikat dengan rencana tindakannya. Menang/menang melihat kehidupan sebagai arena yang kooperatif, bukan kompetitif.

5.      Berusaha mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti (Seek First to Understand, Then to be Understood: Principles of Mutual Understanding)
Kebiasaan buruk kita adalah menginginkan untuk dimengerti oleh orang lain, membacakan autobiografi kita kepada lawan bicara. Berusaha mengerti terlebih dahulu merupakan perubahan paradigma yang sangat mendalam. Kebiasaan berusaha mengerti terlebih dahulu juga berlaku di lingkungan kerja, dengan rekan-rekan kerja. Sebelum kita melontarkan ide ke dalam forum ada baiknya jika kita memahami ide-ide dan kepentingan rekan kita yang lain. Jika kita terlatih dengan kebiasaan ini, kita akan merasa semua orang akan dengan senang hati mendengarkan dan menerima kita. Itulah aturan emasnya.

6.      Sinergi (Synergize: Principles of Creative Cooperation)
 Saran Stephen R. Covey untuk memiliki kebiasaan membangun sinergi didasarkan pada pemahaman bahwa sangat penting untuk bekerja bersama tim dari berbagai latar belakang secara harmonis. Latar belakang berbeda akan memberikan ide-ide yang lebih beragam yang akan membuka jalan bagi solusi yang lebih kreatif dan menguntungkan.
Begitu juga pada Nilai-Nilai Kementerian Keuangan dicantumkan nilai sinergi. Dalam sebuah institusi terlebih lagi dalam lingkup kementerian, nilai sinergi wajib ditumbuhkembangkan pada setiap individu pegawainya. Sehingga tujuan dan cita-cita sebuah instansi bisa tercapai.
Renewal Self
7.      Asahlah Gergaji (Sharpen the Saw: Principles of Balanced Self-Renewal)
Kebiasaan ini akan membantu meningkatkan kemampuan dan pengetahuan kita. Stephen Covey menggambarkan kebiasaan ini dengan ilustrasi seseorang yang sedang menggergaji sebatang pohon besar. Berjam-jam ia menggergaji, tanpa ada kemajuan yang berarti. Tapi ia terus saja menggergaji, tanpa berhenti, tanpa hasil, dan tanpa menyadari bahwa gergajinya telah tumpul. Jika saja ia mengambil waktu untuk mengasah gergajinya, tentunya ia akan lebih mudah dan cepat menebang pohon yang sedang ia gergaji. Mengasah gergaji adalah tentang liburan, melakukan hal-hal menyenangkan, mengerjakan hobi, dan semua hal yang membantu kita mendapatkan kesegaran dan semangat baru dalam melakukan pekerjaan rutin kita.


Kamis, 16 Mei 2019

Meningkatkan percaya diri pada wajah yang berjerawat

Hubungan Tingkat Kepercayaan Diri Dengan Jerawat (Acne Vulgaris) Pada Remaja



Oleh : Khairana Alifa Syafariah
NIM: C1AA18059
Kelas: 1A S1 Keperawatan

Rasa percaya diri penting dimiliki oleh setiap orang karena rasa percaya diri mendorong seseorang untuk menghadapi situasi dengan pikiran jernih dan menerima kelemahan diri sehingga tidak terpuruk pada perasaan bersalah dan rendah diri yang dapat menghambat dalam mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Terkait dengan kepercayaan diri ini, Koentjaraningrat menyatakan bahwa salah satu kelemahan generasi muda atau remaja adalah kurangnya kepercayaan diri, dalam (Elga Elfina Ompi, Lydia David, H. Opod, 2016).
Remaja dalam perkembangannya, dihadapkan oleh berbagai perubahan, mencakup perubahan biologis dan psikologis. Perubahan biologis yang terdiri dari perubahan fisik merupakan pencetus yang berdampak pada tahap psikis. Perubahan kondisi fisik inilah yang berpengaruh pada kepercayaan diri. Penampilan fisik seperti wajah berjerawat yang tidak sesuai dengan gambaran ideal seorang remaja akan menimbulkan ketidakpuasan sehingga menimbulkan rasa kurang percaya diri. Dalam (Elga Elfina Ompi, Lydia David, H. Opod, 2016).
Jerawat atau dalam bahasa medisnya acne vulgaris adalah peradangan folikel sebasea yang ditandai oleh komedo, papula, pustula, kista dan nodulus ditempat predileksinya yaitu di wajah, leher, badan atas dan lengan atas. Berdasarkan penelitian Goodman, prevalensi tertinggi yaitu pada umur 16-17 tahun. Pada waktu pubertas terjadi peningkatan hormon androgen yang beredar dalam darah yang menyebabkan hiperplasia dan hipertrofi glandula sebasea, sehingga tidak heran angka kejadian jerawat paling tinggi pada usia remaja, dalam (Elga Elfina Ompi, Lydia David, H. Opod, 2016). 
Banyak orang mengatakan bahwa masa remaja adalah masa yang paling indah karena banyak kesan yang terukir. Ditambah lagi masa ini, remaja masih dalam tahap pencarian identitas seperti diungkapkan Erickson, dimana remaja terkadang akan melakukan segala upaya untuk menunjukan identitas dirinya sesuai persepsi mereka (Hurlock, 1990;208). Banyak remaja mempersepsikan bahwa penampilan merupakan salah satu modal terbentuknya kepercayaan diri, sebagaimana Centil (1993;37) menyatakan bahwa penampilan fisik membawa pengaruh pada harga diri seseorang, dalam (Efa Wahyuni, 2007). 

Pada remaja yang sudah selesai masa pubertasnya (remaja akhir), permasalahan fisik yang terjadi berhubungan dengan ketidakpuasan atau keprihatinan mereka terhadap keadaan fisik yang dimiliki yang biasanya tidak sesuai dengan fisik ideal yang diinginkan. Mereka juga sering membandingkan fisiknya dengan fisik orang lain ataupun idola-idola mereka. Salah satu perubahan fisik yang sering menjadi permasalahan pada masa remaja adalah jerawat yang disebabkan oleh peningkatan hormon dalam tubuh selama pubertas yang dapat merangsang kelenjar sebasea menjadi lebih aktif dan menghasilkan minyak yang berlebihan sehingga terjadi hiperplasia dan hipertrofi dari glandula sebasea (Nita, 2008), dalam (Derianggraini, 2012).
Jerawat (acne vulgaris) adalah penyakit kulit yang tidak terlalu serius dan dapat hilang dengan sendirinya, namun memberikan dampak psikologis yang besar. Masalah jerawat sering terjadi pada bagian muka, punggung, dan dada. Masalah ini memberi kesan psikologis yang buruk pada remaja, terutama remaja dalam rentang usia sekolah. Remaja yang mengalami masalah jerawat sering kali mempunyai masalah yang berkaitan dengan gambaran diri, kepercayaan diri, pergaulan sosial, kemurungan, dan kegusaran (Ibrahim, 2006), dalam (Derianggraini, 2012).
Adanya jerawat menyebabkan perubahan dalam penampilan yang mengakibatkan seseorang berespon terhadap perubahan tersebut. Pernyataan ini diperkuat dengan pernyataan Hurlock (2009) bahwa perubahan fisik sering disertai perubahan kepribadian yang berpengaruh terutama pada konsep diri. Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa efek utama yang ditimbulkan oleh jerawat adalah pada psikologis seseorang, seperti krisis percaya diri atau minder dan depresi (Bungawangi, 2008), dalam (Deri Anggraini, 2012).
Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa efek utama yang ditimbulkan oleh jerawat adalah pada psikologis seseorang, seperti krisis percaya diri atau minder dan depresi (Bungawangi, 2008), dalam (Derianggraini, 2012).
Jerawat biasanya di mulai pada awal pubertas dengan peningkatan produksi minyak wajah, dan komedo pertengahan wajah diikuti oleh lesi infeksi. Jerawat dini (sebelum usia 12 tahun) biasanya lebih komedonal daripada inflasi, mungkin karena orang-orang tersebut belum mulai menghasilkan sebum yang cukup untuk mendukung sejumlah besar Proprionibacterium Acnes, dalam (Hywel C Williams, Robert P Dellavalle, Sarah Garner, 2012). 
Jerawat vulgaris mempengaruhi sekitar 45 juta individu di Amerika Serikat. Pathogenesis jerawat adalah proses yang kompleks melibatkan banyak factor, termasuk kekebalan bawan, pengaruh hormon dan genetika. Dampak dari faktor lingkugan termsuk peran diet dalam pathogenesis jerawat masih dijelaskan. Penelitian awal tentang hubungan antara diet dan jerawat menghasilkan hasil yang beragam, dalam (Caroline L. LaRosa, MD, 2016). 

                 DAFTAR PUSTAKA

Wahyuni,E. (2007). Hubungan persepsi tentang jerawat dengan kepercayaan diri     remaja akhir.

Elga Elfina Ompi, Lydia David, & H. Opod, (2016). Hubungan Tingkat Kepercayaan Diri Dengan Jerawat (Acne Vulgaris) Pada Remaja. 

Deri Anggraini, (2012). Hubungan Gambaran Diri Dengan Interaksi Sosial Pada Remaja Yang Berjerawat (Acne Vulgaris) Di Sman 3 Padang Tahun 2012. 

Hywel C Williams, Robert P Dellavalle, Sarah Garner, (2012). Acne Vulgaris. www.lancet.com Vol 379   January 28, 2012. 

Caroline L. LaRosa, MD, Kim A Quach, MD, Kristen Koons, BS, Allen R Kunselman, MA, Junjia Zhu, PhD, Diane M Tholboutot, MD, and Andreas L Zaenglein, MD, Hersbey, Pennsylvania (2016). Consumption of dairy in teenagers with and without acne. the American Academy of Dermatology, Inc. Vol.  75, No

Ringkasan buku The 7 Habits of Highly Effective People

Hallo guys!! Apakah kalian tahu dan pernah membaca buku “The 7 habbits of highly effective” buku karya Stephen R. Covey memaparkan kepad...